Masa Lalu (Bagian 1)

    Saya dilahirkan pada hari Senin pasaran Wage, tanggal 22 Februari 1982 di desa Tenggong, kecamatan Rejotangan, kabupaten Tulungagung. Saya dilahirkan di rumah saya sendiri, di sebuah rumah yang sederhana yang sebagian besar dindingnya masih terbuat dari gedheg (dinding yang terbuat dari anyaman bambu), dan beratapkan genteng biasa. Pada waktu itu, proses kelahiran saya dibantu oleh seorang dukun bayi, belum ada bidan ataupun tempat bersalin. Seingat saya, saya dilahirkan pada malam/dini hari sekitar pukul 02.00.

    Saya lahir sebagai anak ke tiga. Saya mempunyai dua orang kakak, kakak pertama adalah cowok, 9 tahun lebih tua dari saya, kemudian kakak kedua adalah cewek, 5 tahun lebih tua dari saya. Saya juga mempunyai seorang adik cewek, beda 5 tahun dengan saya. Jadi total ada 4 anak, dengan urutan cowok-cewek-cowok(saya)-cewek. Rumah keluarga saya mempunyai halaman yang cukup luas. Waktu kecil, halaman rumah keluarga saya dibuat menjadi lapangan badminton, lengkap dengan garis-garis beserta net-nya. Halaman tersebut sering dipakai oleh tetangga dan teman-teman Ayah saya. Disamping itu, keluarga saya juga mempunyai meja untuk tenis meja.

    Ayah saya adalah seorang guru SD, sedangkan ibu bertani. Waktu kecil, rumah keluarga saya juga dipakai untuk sekolah Taman Kanak-Kanak. Setiap hari selalu ramai oleh anak-anak kecil yang sedang bermain. Waktu itu ibu saya iseng jualan jajan-jajan atau makanan kecil untuk teman-teman saya. Sayapun juga iseng untuk beli, saya minta uang ke ibu, kemudian saya belikan jajan ke ibu juga, hehehe.. Meskipun rumah keluarga saya dijadikan tempat sekolah, tetapi saya tidak mau untuk disuruh ikut sekolah, saya hanya mau bermain saja. Meskipun pada akhir tahun pelajaran saya hanya diminta foto untuk bisa dibuatkan ijazah, saya tetap tidak mau, ya sudahlah..memang tidak bisa dipaksa.

    Waktu kecil, saya dikenal sebagai anak yang nakal. Tetapi meskipun saya nakal, saya tidak pernah memukul teman atau berbuat jahat kepada orang lain. Kenakalan saya biasanya hanya egoisme semata. Misalnya, kalau makanannya tidak ada ikan/daging saya tidak mau makan, kalau saya ingin dibelikan mainan tapi tidak dituruti saya mengamuk, dan lain-lain. Waktu SD pun banyak kejadian lucu berkaitan dengan kenakalan saya. Minggu- minggu pertama masuk sekolah masih ditemani oleh ibu, setelah terbiasa akhirnya tidak ditemani lagi. Kejadiannya, saat itu waktunya jam masuk sekolah jam 07.00 lonceng dibunyikan, saya tidak mau masuk kelas karena saya masih ingin bermain. Saya marah dan melempari lonceng sekolah dengan batu. Beruntung batu-batu yang saya lempar tersebut tidak mengenai kaca. Teman-teman pada takut, dan semua pintu kelas ditutup, saya masih diluar. Akhirnya salah seorang guru keluar dan menurunkan lonceng yang digantung tersebut, agar tidak mengenai kaca. Sayapun masih marah, saya membawa lonceng tersebut, karena tidak kuat maka saya seret, saya buang ke kali/sungai :)). Kejadian lain, waktu itu untuk kelas 1 dan kelas 6, ada semacam imunisasi, diberi suntikan pada lengan sebelah atas. Menurut teman-teman, suntikan tersebut sakit luar biasa. Sayapun takut, waktu gilirannya, sayapun menangis sejadi-jadinya, dan lari terbirit-birit pulang. Ibu saya waktu itu masih di sawah, akhirnya sayapun ke sawah, terjun ke sawah dengan memakai sepatu :)). Dan masih banyak cerita-cerita lainnya, saya sudah lupa, tapi kadang ada orang-orang tua yang justru menceritakan kenakalan saya waktu kecil, saya malahan sudah tidak ingat.

    Waktu itu didepan rumah saya ada rumahnya pak Trimo, badannya besar dan brewokan. Setiap saya lewat depan rumahnya, saya seringkali dicekal, sayapun harus berlari agar bisa lolos dari cengkramannya. Sekarang rumahnya sudah pindah agak jauh. Sedangkan anaknya seumuran saya, namanya Dono. Kalau main kemana-mana saya selalu bersama Dono. Sekarang orangnya kerja di Malaysia (sekarang lebih dikenal dengan sebutan Malingsia, peace..:p) sebagai TKI. Saya sudah jarang sekali ketemu dengan Dono.

    Saat SD, saya juga mengikuti extra kurikuler menari (lain waktu akan saya upload fotonya). Sebenarnya saya tidak suka menari, tetapi karena dipaksa oleh ayah, akhirnya sayapun dengan terpaksa ikut. Saya diajar menari oleh guru yang sama dengan orang yang mengajar kakak saya. Saya sudah lupa nama macam-macam tarian yang sudah sempat saya pelajari, mungkin ada 4 atau 5 jenis tarian yang saya kuasai waktu itu, dan sempat saya pentaskan juga waktu tujuh belas agustusan. Kehidupan saya waktu SD, kalau pagi sekolah, sore mengaji, malam mengaji lagi, lebih sering tidur di ‘langgar’ (sekarang suda jadi masjid) daripada di rumah. Meskipun hanya beralaskan tikar (bukan karpet) dan tidak ada bantal, tetapi saya lebih menyukai tidur di ‘langgar’ bersama teman-teman saya daripada tidur di rumah. Cukup banyak teman-teman saya yang tidur di langgar/masjid waktu itu, sekitar 10-20 orang. Kalau habis mengaji malam, biasanya teman-teman selalu bermain di halaman langgar/masjid. Seringkali kami kena marah dari pak Kyai karena sering ramai waktu orang tidur, bahkan ada yang kena jewer pula. Banyak sekali kegiatan-kegiatan di langgar/masjid ini, mulai dari belajar pidato, puisi, menyanyi, iqra dan lain sebagainya. Saya juga sering mengikuti lomba-lomba di masjid, seperti puisi dan pidato. Yang menang mendapat hadiah buku tulis 3 buah, waktu itu hadiah sebesar itu sudah senang sekali.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s